13/07/2026

Perut Punya Batas, Angka Tidak

(Terpaksa refleksi ini muncul di sini, karena kebanyakan berita korupsi pejabat melintas di berita semua media)

Sebuah server permainan berjalan di rumah. Bukan yang resmi, tentu saja. Yang dijalankan sendiri, di mesin sendiri, dengan basis data yang bisa dibuka kapan saja dengan satu perintah.

Artinya, apa saja bisa diberikan kepada siapa saja. Emas, sebanyak yang diminta. Perlengkapan terbaik, langsung jadi, tanpa satu pun pertempuran.

Suatu malam, semuanya diberikan sekaligus kepada tokoh sendiri. Emas, senjata, semua yang biasanya butuh berbulan-bulan.

Dan rasa bosan itu datang dalam dua puluh menit.

Yang lebih aneh, para pemain lain tetap bertengkar. Memperebutkan barang yang sebenarnya bisa dicetak dua ribu buah dalam satu perintah. Barang yang tidak bisa dimakan, yang tidak menghangatkan siapa pun di musim dingin, karena di dunia itu tidak pernah ada musim dingin.

Tidak ada yang bisa membusuk di sana. Tidak ada anak yang harus diberi makan. Tidak ada kelaparan yang mengintai.

Dan orang tetap serakah.

Kalau kerakusan benar-benar soal bertahan hidup, kenapa ia justru paling murni terlihat di tempat yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan bertahan hidup?

Perut punya langit-langit

Jawaban yang paling sering terdengar memang meyakinkan. Katanya, ini warisan hewan. Kita mamalia. Yang kuat naik, yang lemah tunduk, dan sudah begitu dari sananya.

Setengahnya memang benar. Dominasi itu nyata.

Tetapi ada satu hal yang hampir selalu dilewatkan, dan begitu terlihat, seluruh argumen itu retak.

Kerakusan pada hewan selalu dibatasi oleh tubuh.

Singa makan sampai kenyang, lalu berbaring dan membiarkan yang lain mendekat. Bukan karena ia murah hati. Perutnya penuh. Tupai menimbun biji, dan timbunannya berhenti di suatu titik, sebab biji berjamur dan lubang di pohon itu ada dasarnya.

Tidak ada satu pun mamalia di muka bumi yang menimbun sepuluh ribu ton lalu bangun keesokan paginya dengan perasaan bahwa itu belum cukup.

Daging tidak bisa diinginkan tanpa batas, karena daging membusuk. Emas bisa, karena emas tidak membusuk. Dan angka di dalam basis data bisa diinginkan tanpa batas, karena angka bahkan tidak punya tubuh yang bisa dibusukkan.

Lumbung. Uang. Sertifikat. Saldo. Setiap kali kekayaan naik satu tingkat abstraksi, ia melepaskan satu lagi rem alaminya. Dan rem itu bukan rem moral. Rem itu adalah pembusukan, adalah karat, adalah berat yang harus dipikul, adalah ruang yang harus disediakan.

Semua itu disingkirkan, satu per satu, dan namanya kemajuan.

Nafsunya memang warisan mamalia. Tetapi ketakterbatasannya adalah hasil rekayasa. Kita yang mencabut satu per satu batas yang dulu ditanam alam ke dalam benda-benda.

Sebuah basis data tidak pernah kenyang. Dan manusia yang berhenti berurusan dengan benda, lalu mulai berurusan dengan angka tentang benda, ikut kehilangan rasa kenyangnya.

Serigala yang tidak pernah ada

Kalau soalnya cuma abstraksi, mungkin ini masih bisa ditawar. Tetapi ada satu cerita lagi, dan cerita ini sebaiknya dibaca pelan-pelan.

Seluruh gagasan tentang serigala alfa, tentang pejantan dominan yang berkelahi merebut puncak kawanan, berasal dari penelitian tahun 1947. Rudolf Schenkel, di Kebun Binatang Basel, Swiss.

Ia mengamati serigala di dalam kandang.

Serigala-serigala itu tidak saling kenal. Mereka dikumpulkan dari tempat yang berbeda-beda, dijejalkan ke satu ruang, dan tidak bisa pergi ke mana pun.

Tentu saja mereka berkelahi.

Dua puluh tiga tahun kemudian, seorang ahli bernama L. David Mech menerbitkan buku yang mempopulerkan istilah alfa. Istilah itu menyebar ke mana-mana. Ke pelatihan anjing. Ke buku manajemen. Ke seminar motivasi. Ke sebuah gagasan tentang laki-laki yang sampai hari ini masih dijual mahal di internet.

Lalu Mech pergi ke alam liar, ke Pulau Ellesmere, dan mengamati serigala yang benar-benar bebas.

Dan yang ia temukan adalah keluarga.

Kawanan serigala di alam liar bukan geng yang berebut takhta. Ia pasangan induk beserta anak-anaknya. Yang selama ini disebut alfa itu ternyata cuma bapak dan ibu. Mereka memimpin bukan karena menang berkelahi, melainkan karena mereka orang tua.

Mech menghabiskan sisa kariernya berusaha menarik kembali istilah yang ia sebarkan sendiri. Ia menulis makalah pembetulan. Ia meminta penerbitnya berhenti mencetak ulang bukunya sendiri. Ia bahkan memasang salinan makalah Schenkel yang lama di situs pribadinya, dengan catatan bahwa inilah asal-usul kekeliruan itu.

Ia gagal. Sampai hari ini orang masih menjual kata alfa.

Dan Mech pernah menulis perbandingan yang tidak mudah dilupakan: menyimpulkan sifat serigala dari kawanan tawanan itu seperti menyimpulkan sifat keluarga manusia dengan mengamati manusia di kamp pengungsi.

Renungkan sebentar. Pembenaran ilmiah yang paling sering dipakai orang untuk mengatakan bahwa dominasi itu alamiah, ternyata lahir dari sebuah kandang.

Serigala liar hidup sebagai keluarga.

Yang membuat tiran adalah kurungan.

Pola yang sama, tiga kali

Sampai di sini polanya mulai kelihatan, dan begitu terlihat ia sulit dilupakan.

Kerakusan yang tak terbatas: itu bukan alam. Itu abstraksi yang kita bangun.

Serigala yang berebut takhta: itu bukan alam. Itu kandang yang kita bangun.

Dan hasrat itu sendiri, kalau René Girard benar, juga bukan milik kita. Menurut dia, kita bahkan tidak menginginkan barangnya. Kita menginginkan apa yang diinginkan orang lain. Itu sebabnya seorang anak tiba-tiba menginginkan mainan yang berbulan-bulan tergeletak di sudut, tepat pada detik anak lain memungutnya.

Hasrat itu barang pinjaman. Dan itulah yang sebenarnya terjadi di server itu. Yang mereka perebutkan bukan barangnya. Yang mereka perebutkan adalah bahwa orang lain menginginkannya.

Tiga kali hal yang sama, dari tiga arah yang berbeda.

Yang kita sebut alamiah, hampir selalu buatan.

Dan itu kabar buruk, karena berarti tidak ada yang bisa disalahkan selain diri sendiri.

Tetapi itu juga kabar baik, karena yang dibangun bisa dibongkar.

Kita pernah punya rem, dan kita membuangnya

Bagian ini biasanya hilang dari percakapan tentang kerakusan, dan tanpa bagian ini seluruh gambarnya jadi timpang.

Christopher Boehm meneliti puluhan masyarakat pemburu-peramu dan menemukan sesuatu yang mengejutkan. Mereka bukan sekadar tidak punya hierarki. Mereka secara aktif menghancurkannya.

Siapa pun yang mulai bertingkah seperti bos akan ditertawakan. Digunjingkan. Dipermalukan dengan lelucon yang halus tapi tepat sasaran. Kalau masih bandel, ia diasingkan.

Nenek moyang kita menjatuhkan calon tiran dengan cara menertawakannya.

Boehm menyebutnya hierarki dominasi terbalik. Yang banyak dan lemah bersekutu untuk menjinakkan yang satu dan kuat. Artinya, di dalam diri kita ada dua naluri sekaligus. Naluri untuk naik, yang memang diwarisi dari kera. Dan naluri untuk menarik turun orang yang naik terlalu tinggi, yang tampaknya khas manusia.

Kita mungkin satu-satunya spesies yang mengembangkan sistem kekebalan terhadap tirani. Dan senjata paling tuanya, yang selalu dianggap dosa kecil dan tidak sopan, ternyata adalah gunjingan.

David Graeber dan David Wengrow menambahkan satu hal lagi yang membuat orang termenung berhari-hari.

Beberapa masyarakat lama ternyata menyalakan dan mematikan hierarki mereka sesuai musim. Pada musim perburuan bison, suku-suku di dataran Amerika Utara membentuk semacam kepolisian dengan kuasa yang besar dan nyata. Ada yang memerintah. Ada yang menghukum. Ada yang ditaati.

Dan ketika musim perburuan selesai, seluruh struktur itu dibubarkan.

Kuasa dengan tombol mati. Jabatan yang habis masa berlakunya bukan karena kalah dalam pemilihan, melainkan karena musimnya sudah lewat.

Mereka bukan orang bodoh yang belum menemukan negara. Mereka orang yang tahu persis apa yang terjadi kalau kuasa dibiarkan menginap terlalu lama.

Kalau hierarki itu benar-benar hukum alam yang tak terelakkan, seharusnya tidak ada satu pun masyarakat yang sanggup mematikannya setiap tahun.

Dua kata untuk kuasa

Orang Romawi punya dua kata untuk kuasa, dan kita mewarisi kedua-duanya tanpa pernah membedakannya.

Potestas adalah kesanggupan memaksa. Kuasa yang bekerja karena ada sanksi di belakangnya.

Auctoritas akarnya augere, yang artinya menumbuhkan. Kata yang sama melahirkan auctor, penumbuh, yang kemudian menjadi author, dan menjadi augment.

Jadi menurut akar katanya sendiri, wibawa yang sejati adalah kuasa yang membuat orang lain bertumbuh. Bukan kuasa yang membuat orang lain kecil.

Dua kata itu ada di dalam kepala kita, dan hampir seumur hidup kita mengejar yang salah.

Godaan pertama bukan soal buah

Dan jalan yang panjang ini ternyata berujung di tempat yang sudah tertulis di halaman-halaman pertama Kitab Suci.

Godaan yang pertama itu bukan soal buah.

Ular tidak berkata bahwa buahnya enak. Ular berkata bahwa kamu akan menjadi seperti Allah. Godaan yang pertama adalah godaan pangkat.

Menara Babel juga bukan soal batu bata dan bukan soal tinggi. Alasannya disebutkan terang-terangan di dalam teksnya sendiri: supaya kita membuat nama bagi diri kita sendiri.

Agustinus punya nama untuk penyakit ini. Libido dominandi, hasrat untuk menguasai. Ia menjadikannya poros seluruh De Civitate Dei: hanya ada dua kota di dunia ini, dibangun oleh dua cinta yang saling bertolak belakang.

Dan orang Jawa sudah lama punya remnya, dengan rumus yang cuma dua kata. Aja dumeh. Jangan mentang-mentang.

Perhatikan siapa yang dituju. Bukan orang yang di bawah. Peringatan itu seluruhnya ditujukan kepada orang yang sedang berada di atas, dan diucapkan pada saat ia sedang naik, bukan setelah ia jatuh.

Itu bukan nasihat. Itu tombol mati yang dititipkan di dalam bahasa.

Yang tersisa

Alam menanam rem ke dalam benda-benda, dan kita mencabutinya satu per satu. Daging membusuk, emas tidak. Lumbung penuh, saldo tidak pernah penuh. Perut punya batas, dan angka tidak punya.

Kalau rem itu tidak lagi ada di dalam benda, maka ia harus dipasang di tempat lain. Di dalam kebiasaan. Di dalam bahasa. Di dalam musim yang dibuat sendiri, seperti orang-orang yang membubarkan kepolisian mereka begitu perburuan usai.

Kenyang bukan lagi sesuatu yang kita rasakan.

Kenyang, sekarang, adalah sesuatu yang harus kita putuskan.


Bacaan

  • Rudolf Schenkel, “Expressions Studies on Wolves” (1947), penelitian serigala tawanan di Kebun Binatang Basel. Salinannya dipasang di situs davemech.org.
  • L. David Mech, The Wolf (1970), dan makalah pembetulannya, “Alpha Status, Dominance, and Division of Labor in Wolf Packs”, Canadian Journal of Zoology (1999). Wawancara Mech tentang pembetulan ini terbit di Science Arena, April 2025.
  • Christopher Boehm, “Egalitarian Behavior and Reverse Dominance Hierarchy”, Current Anthropology (1993), dan Hierarchy in the Forest (Harvard University Press, 1999).
  • David Graeber dan David Wengrow, The Dawn of Everything (Farrar, Straus and Giroux, 2021).
  • René Girard, gagasan tentang hasrat mimetik. Pengantar yang paling mudah dibaca hari ini: Luke Burgis, Wanting (2021).
  • Will Storr, The Status Game (2021).
  • Agustinus, De Civitate Dei, terutama buku XIV.