13/07/2026

Gamifikasi, Liturgi, dan Pendidikan Iman Anak dalam Terang Teologi Kontekstual

(Terpaksa buka tulisan lama ini karena di-WA Romo Profesor Idola)

Kertas kerja menuju proposal tesis

1. Pergeseran bingkai: dari soal pedagogi menjadi soal teologi kontekstual

Esai yang mendahului kertas kerja ini memperlakukan gamifikasi sebagai persoalan pendidikan iman. Itu bingkai yang terlalu sempit, dan menyempitkannya membuat argumennya kehilangan taringnya.

Persoalan yang sesungguhnya bukan apakah poin efektif atau tidak. Persoalannya adalah bentuk budaya mana yang dipakai untuk mewadahi Injil, dan dari mana bentuk itu diambil.

Itu pertanyaan teologi kontekstual, dan begitu diletakkan di sana, seluruh perkaranya berubah.

Stephen Bevans merumuskan enam model teologi kontekstual, dan ia meringkas dua di antaranya dengan kiasan berkebun yang sangat jernih. Model terjemahan bekerja dengan membawa benih dari luar, lalu menanamnya di tanah setempat. Model antropologis bekerja dengan keyakinan bahwa benihnya sudah ada di dalam tanah, dan tugas kita hanyalah menyiraminya.

Sekarang perhatikan apa yang dilakukan gamifikasi katekese.

Ia mengambil bentuk yang lahir dari perilakuisme Amerika pertengahan abad kedua puluh, yang kemudian dikomersialkan oleh industri perangkat lunak Silicon Valley sebagai teknik retensi pengguna, lalu menanamkannya ke dalam ruang katekese di Jawa. Poin, lencana, papan peringkat. Benih dari luar, ditanam di tanah kita.

Itu model terjemahan dalam bentuknya yang paling murni, dan model terjemahan selalu mengandaikan bahwa tanahnya kosong.

Padahal tanahnya tidak kosong.

Dan di sinilah letak ironi yang menjadi poros seluruh penelitian ini. Model gamifikasi menamai poin yang dikumpulkan anak sebagai benih iman. Kiasan itu dipakai tanpa sadar, dan justru kiasan itulah yang membongkar dirinya sendiri. Sebab dalam kiasan Bevans, benih yang dibawa dari luar adalah tanda model terjemahan, dan dalam perumpamaan penabur, benih tidak pernah dikumpulkan oleh tanah.

Benihnya sudah ada di tanah ini. Dua kali, bahkan.

2. Rumusan masalah

Tiga pertanyaan, dan ketiganya harus dijawab agar penelitian ini utuh.

Pertama, pertanyaan teologis. Model teologi kontekstual manakah yang secara diam-diam dianut oleh gamifikasi pendidikan iman anak, dan sejauh mana model itu bersesuaian atau bertentangan dengan teologi rahmat dan teologi baptis?

Kedua, pertanyaan empiris. Bagaimana paparan terhadap sistem imbalan yang dijanjikan di muka berhubungan dengan orientasi keagamaan intrinsik anak, dan melalui jalur apa hubungan itu bekerja?

Ketiga, pertanyaan konstruktif. Bentuk permainan seperti apa yang dapat dirancang bila titik tolaknya adalah unsur permainan yang sudah hadir di dalam liturgi dan di dalam budaya Jawa, dan bukan yang diimpor dari luar?

3. Tesis pokok

Dirumuskan dalam satu kalimat, sebab tesis yang tidak muat dalam satu kalimat biasanya belum selesai dipikirkan.

Pendidikan iman anak menjadi paling berdaya ketika ia menyirami permainan yang sudah tumbuh di dalam liturgi, yaitu peran, kekaguman, dan pemberian yang cuma-cuma, dan bukan ketika ia menanam rumpun permainan yang justru asing bagi liturgi, yaitu kompetisi.

Dari tesis itu lahir tiga turunan.

Secara teologis, imbalan yang dijanjikan di muka membentuk logika jasa, dan logika jasa bertentangan dengan kecuma-cumaan rahmat. Sementara imbalan yang datang sebagai kejutan, tanpa pernah dijanjikan, justru menyalin struktur rahmat itu sendiri.

Secara psikologis, mekanisme mengajar lebih keras daripada pengumuman. Sebuah sistem boleh menyatakan dirinya bukan lomba; angka yang menempel pada nama seorang anak akan tetap dibandingkan.

Secara kontekstual, tanah ini sudah menyimpan dua benih permainan yang matang, yaitu liturgi dan tradisi dolanan, dan keduanya belum pernah dipertemukan secara sistematis dalam katekese anak.

4. Kerangka teori

Empat lapis, dan keempatnya diperlukan. Tanpa salah satunya, argumennya pincang.

4.1 Lapis teologi kontekstual

Bevans menyediakan alat untuk mendiagnosis. Gamifikasi sebagai model terjemahan. Usulan tandingan sebagai perpaduan model antropologis dan model praksis.

Model praksis penting di sini karena ia menyambung langsung ke Thomas Groome, yang lima gerakan shared Christian praxis-nya berputar dan berulang, bukan mendaki. Menariknya, satu-satunya unsur yang benar-benar sehat dalam model gamifikasi yang beredar, yaitu buku catatan misi, justru adalah Groome yang menyamar. Menamai tindakan, merefleksikannya, mempertemukannya dengan Kisah.

Yang menempatkan ini sebagai teologi kontekstual Indonesia adalah pertanyaan tentang siapa yang menentukan bentuk. Wali Songo tidak mengimpor bentuk. Mereka memakai wayang, gamelan, dan dolanan.

4.2 Lapis antropologi permainan

Huizinga menegaskan bahwa permainan lebih tua daripada kebudayaan, dan bahwa ritus secara bentuk tidak dapat dibedakan dari permainan. Keduanya menandai ruang khusus, waktu tertentu, dan aturan mutlak yang hanya berlaku di dalamnya. Ia menyebutnya lingkaran ajaib.

Caillois memberi pisau bedahnya. Empat rumpun permainan: agôn untuk kompetisi, alea untuk nasib, mimicry untuk peran, dan ilinx untuk kekaguman yang menghilangkan pijakan.

Dari sinilah tesis pokok memperoleh ketajamannya. Gamifikasi hanya memakai agôn. Liturgi bekerja di mimicry, di ilinx, dan, bila boleh dikatakan dengan hati-hati, di sesuatu yang menyerupai alea, sebab rahmat datang tanpa dapat dihitung sebabnya.

Satu-satunya rumpun yang tidak ada di dalam liturgi justru rumpun yang kita tempelkan padanya.

4.3 Lapis psikologi motivasi

Lepper, Greene, dan Nisbett menunjukkan bahwa imbalan yang dijanjikan di muka menggerus minat yang sudah ada, sementara imbalan yang datang sebagai kejutan tidak. Deci, Koestner, dan Ryan mengukuhkannya lewat meta-analisis atas seratus dua puluh delapan percobaan.

Teori Determinasi Diri menyediakan jalur mediasinya: otonomi, kompetensi, dan keterhubungan.

Dan Allport menyediakan variabel terikatnya, yaitu orientasi keagamaan intrinsik dan ekstrinsik, lengkap dengan instrumen ukurnya. Orang yang beragama secara intrinsik menghidupi imannya. Orang yang beragama secara ekstrinsik memakai imannya untuk sesuatu yang lain.

Papan bintang, bila hipotesis ini benar, adalah mesin yang secara sistematis memproduksi orientasi ekstrinsik pada usia paling dini.

4.4 Lapis teologi sistematis

Katekismus menyatakan bahwa rahmat adalah bantuan cuma-cuma yang tidak dapat dijasakan, dan bahwa tidak seorang pun dapat memperoleh rahmat pertama dengan jasanya sendiri.

Lumen Gentium menegaskan bahwa kaum beriman, melalui baptis, sudah mengambil bagian dalam tiga tugas Kristus. Imam, nabi, raja.

Dua ajaran ini, bila diambil serius, membatalkan dua unsur pokok gamifikasi sekaligus. Yang pertama membatalkan poin sebagai jasa. Yang kedua membatalkan tangga level, sebab tidak ada anak baptis yang berstatus Pencari yang harus naik pangkat menjadi Murid.

Guardini menutup lingkarannya. Liturgi adalah permainan, sebab ia tidak memiliki tujuan di luar dirinya. Penuh makna, tanpa faedah.

5. Keberatan tandingan, dan jawabannya

Bagian ini yang paling menentukan, dan tanpa bagian ini seluruh penelitian akan runtuh di ruang sidang pada menit kelima.

Keberatannya begini. Tradisi Katolik sendiri penuh dengan hitungan. Rosario dihitung sepuluh demi sepuluh. Novena berlangsung sembilan hari, dan bila bolong harus diulang dari awal. Jalan Salib terdiri dari empat belas perhentian yang tidak boleh dibalik urutannya. Sembilan Jumat Pertama datang dengan janji yang eksplisit. Dan indulgensi, secara harfiah, adalah sistem perhitungan dengan ganjaran yang dijanjikan di muka.

Bila memberi angka pada doa adalah Pelagianisme, maka apa yang harus dikatakan tentang indulgensi?

Jawabannya ada, dan jawabannya justru mempertajam tesis.

Garis pemisahnya bukan antara menghitung dan tidak menghitung. Garis pemisahnya terletak di tiga tempat, dan ketiganya harus dilewati sekaligus.

Pertama, hitungan yang membentuk melawan hitungan yang memeringkat. Sepuluh Salam Maria itu wadah, bukan skor. Ia menahan doa agar tidak berhamburan, sebagaimana bait menahan puisi. Dalam bahasa Caillois, rosario adalah ludus, yaitu permainan yang terikat aturan ketat, dan bukan agôn. Ia tidak membandingkan siapa pun dengan siapa pun.

Kedua, hitungan yang batin melawan hitungan yang dipublikasikan. Tidak ada papan di dinding gereja mana pun yang memuat nama umat beserta jumlah novena yang berhasil mereka selesaikan. Justru Matius 6 melarang publikasinya, bukan perbuatannya.

Ketiga, dan yang paling menentukan, siapa yang memberi upah. Dalam indulgensi, yang memberi adalah Allah, melalui perbendaharaan jasa Kristus dan para kudus. Dalam papan bintang, yang memberi adalah panitia.

Rosario dan papan bintang sama-sama menghitung. Yang satu adalah bentuk. Yang satu adalah harga.

Dan justru karena keberatan ini bisa dijawab, tesisnya menjadi lebih presisi: yang dipersoalkan bukan angka, melainkan angka yang dipublikasikan, dibandingkan, dan dibayarkan oleh manusia.

6. Proposisi yang dapat diuji

Sebuah esai boleh berhenti pada argumen. Sebuah tesis harus menyediakan sesuatu yang bisa jatuh.

P1. Intensitas paparan terhadap sistem imbalan yang dijanjikan di muka dalam katekese anak berhubungan negatif dengan orientasi keagamaan intrinsik mereka.

P2. Hubungan pada P1 dimediasi oleh rasa otonomi. Semakin anak merasa berdoa demi memperoleh sesuatu, semakin rendah otonomi yang dirasakan, dan semakin rendah orientasi intrinsiknya.

P3. Imbalan yang datang sebagai kejutan, tanpa dijanjikan di muka, tidak menunjukkan hubungan negatif tersebut. Ini turunan langsung dari temuan Lepper yang selama ini nyaris tidak pernah dipakai dalam kajian keagamaan, dan sekaligus merupakan padanan empiris dari kecuma-cumaan rahmat.

P4. Peran liturgis yang dipercayakan kepada anak, seperti tugas misdinar, lektor cilik, atau pembawa persembahan, berhubungan positif dengan orientasi intrinsik, dan hubungan itu dimediasi oleh rasa kompetensi dan keterhubungan, bukan oleh imbalan.

P5. Misi kelompok yang berhasil atau gagal secara bersama-sama menghasilkan rasa keterhubungan yang lebih tinggi daripada misi individual yang diperingkat.

P3 adalah yang paling penting, dan yang paling mungkin menjadi kebaruan. Bila terbukti, ia memberi dasar empiris bagi sebuah pembedaan teologis yang selama ini hanya hidup sebagai khotbah.

7. Kemungkinan metode

Jalur yang tidak boleh ditempuh perlu disebut lebih dulu. Percobaan bergaya Lepper, dengan kelompok perlakuan yang sengaja dirancang untuk merusak motivasi religius anak lalu diukur kerusakannya, tidak dapat dibenarkan secara etis. Komisi etik mana pun akan menolaknya, dan seharusnya menolak.

Jalur pertama, survei lintas-seksi dengan pemodelan persamaan struktural. Variabel bebas berupa intensitas paparan sistem imbalan. Variabel terikat berupa orientasi keagamaan intrinsik. Pemediasi berupa otonomi, kompetensi, dan keterhubungan. Instrumen diadaptasi dari Allport dan dari perangkat Determinasi Diri, dengan penyesuaian bahasa dan usia. Ini jalur yang paling dekat dengan keahlian yang sudah dimiliki.

Jalur kedua, penelitian pengembangan. Rancang perangkat katekese berbasis peran, bukan poin. Ujicobakan di beberapa lingkungan. Ukur, perbaiki, ulangi. Luaran akhirnya bukan sekadar tesis, melainkan sesuatu yang dapat langsung dipakai orang. Jalur ini yang paling sesuai bagi orang yang memang merancang permainan.

Jalur ketiga, kualitatif. Wawancara terhadap katekis dan anak. Sebab baris paling bawah pada papan manila itu adalah seorang anak, dan sampai hari ini belum ada yang pernah menanyainya.

Perpaduan jalur kedua dan ketiga menghasilkan tesis teologi kontekstual yang sesungguhnya, karena keduanya bertolak dari praksis dan kembali ke praksis.

8. Kebaruan

Empat medan sudah ramai, dan tidak satu pun dari keempatnya pernah bertemu.

Lepper dan Deci meneliti motivasi, tetapi pada spidol dan pekerjaan, bukan pada doa.

Allport meneliti orientasi keagamaan, tetapi pada orang dewasa, bukan pada anak yang sedang dibentuk.

Huizinga, Caillois, dan Guardini memikirkan permainan dan ritus, tetapi tanpa data.

Dan literatur gamifikasi pendidikan agama, yang jumlahnya berlimpah, hampir seluruhnya bersifat afirmatif dan berhenti pada laporan bahwa anak-anak tampak lebih antusias.

Belum ada yang mempertemukan keempatnya untuk menanyakan satu hal sederhana: apa yang terjadi pada iman seorang anak ketika doanya diberi harga.

9. Batas penelitian

Perlu disebut, sebab tesis yang tidak menyebut batasnya akan dicarikan batasnya oleh penguji.

Penelitian ini tidak menyatakan bahwa semua imbalan merusak. Temuan Lepper sendiri menunjukkan bahwa efeknya paling kuat pada kegiatan yang sejak semula memang disukai, dan nyaris tidak berpengaruh pada pekerjaan yang membosankan. Hafalan, karena itu, boleh saja dibantu dengan tangga.

Penelitian ini juga tidak menyatakan bahwa kompetisi selalu buruk. Ia menyatakan bahwa kompetisi adalah satu dari empat rumpun permainan, dan bahwa memakai satu rumpun untuk mewadahi sesuatu yang bekerja di tiga rumpun lain adalah kekeliruan bentuk.

Dan ia tidak menyatakan bahwa para katekis keliru. Mereka orang baik yang merelakan hari Minggu mereka, dan mereka memakai satu-satunya alat yang pernah ditawarkan kepada mereka.

10. Simpulan sementara

Yang sedang dipersoalkan bukan permainan, melainkan penyempitan permainan menjadi papan angka.

Yang sedang dipersoalkan bukan hitungan, melainkan hitungan yang dipublikasikan, dibandingkan, dan dibayarkan oleh manusia.

Dan yang sedang diusulkan bukan penemuan, melainkan pengenalan kembali. Sebab bentuk permainan yang dicari itu sudah berdiri di tengah kita, setiap hari Minggu, dengan ambang pintu, air, peran, kostum, urutan, dan jawaban yang diketahui semua orang tanpa membuka buku.

Benihnya sudah ada di dalam tanah. Yang diperlukan hanyalah menyiraminya.

11. Agenda kerja berikutnya

Tinjauan sistematis atas literatur gamifikasi pendidikan agama, untuk memastikan celahnya memang belum terisi.

Penelusuran literatur inkulturasi Jawa, terutama yang membahas dolanan anak, agar bagian kontekstualnya berpijak pada sumber dan bukan pada ingatan.

Penyusunan dan penerjemahan instrumen Allport untuk usia anak, sebab versi aslinya disusun untuk orang dewasa dan tidak dapat dipakai begitu saja.

Dan yang paling awal dari semuanya: menemui beberapa katekis, dan berdiri bersama mereka di depan papan itu.

Daftar pustaka awal

Allport, G. W., dan J. M. Ross. “Personal Religious Orientation and Prejudice.” Journal of Personality and Social Psychology 5, no. 4 (1967).

Bevans, Stephen B. Models of Contextual Theology. Edisi revisi. Maryknoll: Orbis Books, 2002.

Caillois, Roger. Les jeux et les hommes: Le masque et le vertige. Paris: Gallimard, 1958.

Deci, E. L., R. Koestner, dan R. M. Ryan. “A Meta-Analytic Review of Experiments Examining the Effects of Extrinsic Rewards on Intrinsic Motivation.” Psychological Bulletin 125, no. 6 (1999).

Groome, Thomas H. Christian Religious Education: Sharing Our Story and Vision. San Francisco: Harper & Row, 1980.

Groome, Thomas H. Sharing Faith: A Comprehensive Approach to Religious Education and Pastoral Ministry. San Francisco: HarperCollins, 1991.

Guardini, Romano. Vom Geist der Liturgie. 1918.

Huizinga, Johan. Homo Ludens: A Study of the Play-Element in Culture. 1938.

Konsili Vatikan II. Lumen Gentium, art. 31.

Katekismus Gereja Katolik, art. 1268, 1996 sampai 1998, dan 2010.

Lepper, M. R., D. Greene, dan R. E. Nisbett. “Undermining Children’s Intrinsic Interest with Extrinsic Reward: A Test of the Overjustification Hypothesis.” Journal of Personality and Social Psychology 28, no. 1 (1973).

Ryan, R. M., dan E. L. Deci. Self-Determination Theory: Basic Psychological Needs in Motivation, Development, and Wellness. New York: Guilford, 2017.

Masih perlu ditambahkan: literatur inkulturasi Jawa dan Wali Songo, kajian tentang dolanan anak sebagai sarana pendidikan nilai, serta tinjauan sistematis atas literatur gamifikasi pendidikan agama sepuluh tahun terakhir.