(Sebuah refleksi atas buku Improving Your Serve, tulisan Charles Swindoll dan Humble Inquiry, tulisan Edgar Schein)
Sebuah aula paroki di sore hari punya suara yang khas. Kipas angin yang berputar dengan bunyi berdecit di satu titik tertentu. Kursi lipat besi yang digeser. Proyektor yang panas dan berdengung, dan seseorang yang berdiri di belakang untuk mematikan lampu supaya layarnya terbaca.
Berdiri di depan aula semacam itu sudah entah berapa kali. Membawa laptop. Membawa sistem baru. Membawa niat yang terasa sangat baik.
Di depan duduk para pengurus. Sekretaris paroki di barisan tengah, dengan buku catatan yang terbuka. Bendahara di sebelahnya. Beberapa ketua lingkungan di belakang, yang datang karena diundang dan karena tidak enak kalau tidak datang.
Alurnya dijelaskan. Menunya ditunjukkan. Kalimat penutupnya selalu sama: ini akan sangat memudahkan.
Lalu, seperti yang selalu terjadi di ujung sesi, sebuah pertanyaan dilemparkan ke ruangan. Bagaimana, ada pertanyaan?
Hening.
Dan sore itu ditutup dengan perasaan bahwa pelatihannya berjalan lancar.
Beberapa bulan kemudian
Basis datanya dibuka beberapa bulan kemudian, dan paroki itu hampir kosong.
Bukan kosong sama sekali. Ada beberapa baris, dimasukkan pada minggu pertama, lalu berhenti. Seperti orang yang mencoba berenang, menyentuh air, lalu naik lagi ke tepi.
Telepon diangkat. Dan dari ujung sana, dengan suara yang sopan sekali, sekretaris paroki menjelaskan bahwa buku besar yang lama masih dipakai. Bukan karena sistemnya jelek, katanya buru-buru. Bukan, bukan itu. Hanya saja, kalau ada umat datang ke meja depan minta surat keterangan, ia harus melayani sambil berdiri, dan komputernya ada di ruang dalam, dan kalau ia masuk ke ruang dalam maka meja depan kosong, dan kalau meja depan kosong maka umat menunggu.
Hening lagi. Kali ini dari sisi telepon yang sebelah sini.
Karena keterangan itu, keterangan yang menjelaskan seluruh kegagalan sistem itu di sana, sudah ada di kepala orang tersebut sejak sore di aula. Ia tahu. Ia tahu sejak menit pertama proyektor dinyalakan.
Ia hanya tidak mengatakannya.
Dua buku yang datang di bulan yang sama
Kebetulan, di bulan-bulan itu ada dua buku di meja yang sama sekali tidak berhubungan.
Yang pertama, Improving Your Serve, tulisan Charles Swindoll. Buku rohani, tumbuh dari khotbah, dan seluruhnya bertumpu pada satu ayat: Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani.
Yang kedua, Humble Inquiry, tulisan Edgar Schein. Buku organisasi, tipis, dan isinya satu gagasan saja. Bertanyalah tentang hal yang jawabannya belum kamu ketahui.
Keduanya dibaca secara terpisah, dari dua rak yang berbeda. Yang satu untuk hidup rohani. Yang satu untuk pekerjaan.
Ternyata keduanya sedang membicarakan sore di aula itu.
Yang diajarkan Swindoll
Swindoll memberi tiga kata kerja yang tidak bisa dibalik urutannya. Memberi, memaafkan, melupakan.
Dan yang pertama itu terasa sudah lunas. Waktu diberikan. Malam-malam panjang di depan layar diberikan. Akhir pekan diberikan. Sistem itu dibangun bukan untuk dipakai sendiri. Ia dibangun untuk orang-orang di aula itu.
Kalau ada yang tidak memakainya, ya sudah. Pelayan memang begitu. Swindoll bahkan menyediakan satu bab penuh untuk mengingatkan bahwa pelayan akan dimanfaatkan, akan merasa tidak dihargai, akan bekerja tanpa disebut namanya.
Nah. Itu saya, pikir saya waktu itu. Sedang berada di bab itu.
Sungguh nyaman sekali punya buku rohani yang bisa dipakai untuk membenarkan diri sendiri.
Yang diajarkan Schein
Schein datang dan merusak kenyamanan itu.
Ia membagi kerendahan hati menjadi tiga, dan yang ketiga itulah yang menusuk. Ia menyebutnya kerendahan hati di sini dan saat ini. Rasa rendah hati yang muncul bukan karena orang lain lebih tinggi pangkatnya, bukan karena ia lebih hebat prestasinya, melainkan karena untuk urusan ini, hari ini, kita bergantung padanya.
Bacalah sekali lagi, lalu bayangkan aula itu.
Siapa yang sebenarnya bergantung pada siapa?
Orang dari keuskupan datang membawa laptop dan proyektor, berdiri di depan sementara semua orang duduk. Seluruh tata ruangan mengatakan bahwa dialah yang tahu dan merekalah yang belum tahu.
Padahal tidak ada satu pun yang ia ketahui tentang meja depan. Tidak tahu bahwa ada umat berdiri menunggu. Tidak tahu bahwa ruang dalam terlalu jauh. Tidak pernah sekali pun duduk di kursi sekretaris paroki pada hari Senin pagi.
Sistem itu tidak akan pernah benar tanpa dia. Dan dialah, di seluruh ruangan itu, satu-satunya orang yang tidak ditanyai.
Schein menulis kalimat yang tidak enak dibaca dan tidak mudah dilupakan. Orang lebih sering memilih gagal daripada mengakui bahwa ia membutuhkan orang lain.
Ada pertanyaan?
Rasanya sudah bertanya. Setiap pelatihan selalu ditutup dengan pertanyaan. Ada pertanyaan?
Tetapi itu bukan pertanyaan.
Itu tanda baca. Itu cara sopan untuk mengatakan bahwa sesi sudah selesai. Diucapkan sambil membereskan kabel, sambil melirik jam, sambil menutup laptop. Semua orang di ruangan itu paham bahwa satu-satunya jawaban yang diharapkan adalah tidak ada.
Kata inquiry datang dari in-quaerere. Mencari ke dalam. Bukan menagih persetujuan, bukan memancing supaya orang lain mengucapkan kalimat yang sudah kita siapkan untuknya.
Yang terjadi di ujung aula itu bukan mencari. Itu menagih.
Dan hening yang diterima sebagai tanda bahwa semuanya jelas, sebenarnya adalah data. Data yang paling penting sepanjang sore itu. Cuma salah dibaca.
Kita punya nama sendiri untuk hening semacam itu, dan namanya jauh lebih tepat daripada istilah mana pun dalam buku Schein. Ewuh pakewuh.
Dan inilah bagian yang paling sulit ditelan. Ewuh pakewuh itu bukan salah mereka. Rasa tidak enak itu tidak muncul begitu saja dari udara. Ia muncul karena ada jarak.
Dan jarak itu saya yang membangunnya. Saya yang berdiri sementara mereka duduk. Saya yang datang dari keuskupan. Saya yang bicara delapan puluh menit dan bertanya delapan detik.
Yang membuat orang diam bukan sifat mereka. Yang membuat orang diam adalah ruangan yang kita bentuk untuk mereka.
Dua buku, satu arah
Lalu ada sesuatu yang membuat orang tertegun agak lama kalau ia melihatnya.
Humilis, akar kata rendah hati, datang dari humus. Tanah.
Doulos, kata Yunani untuk pelayan yang dipakai Perjanjian Baru, sebenarnya berarti budak. Orang yang tidak memiliki dirinya sendiri.
Ministerium, kata yang tiap hari diucapkan di Gereja, akarnya minus. Yang lebih kecil.
Tiga kata, dari tiga bahasa, dari dua rak buku yang tampaknya tidak berhubungan. Dan ketiganya menunjuk ke arah yang sama. Ke bawah. Selalu ke bawah.
Ternyata Swindoll dan Schein sedang menuruni tangga yang sama, hanya masuk dari pintu yang berbeda.
Yang tumpah ketika salah satunya hilang
Sekarang kelihatan apa yang terjadi kalau salah satu dari keduanya hilang.
Melayani tanpa bertanya menghasilkan orang seperti yang berdiri di depan aula itu. Sibuk, tulus, berkorban, dan sepenuhnya meleset. Yang dilayaninya adalah sesuatu yang ia bayangkan mereka butuhkan. Dan ketika mereka tidak memakainya, ia bahkan punya bab dalam buku rohani untuk menghibur diri.
Melayani tanpa bertanya adalah cara paling sopan untuk memaksa.
Sebaliknya, bertanya tanpa melayani juga ada, dan bentuknya rapi sekali. Namanya penggalian kebutuhan. Wawancara pengguna. Pertanyaan diajukan dengan sungguh-sungguh, dicatat dengan rajin, diangguki dengan empati yang terlatih, dan sepanjang waktu itu yang terjadi adalah pengambilan. Pertanyaan berubah jadi alat keruk. Orangnya jadi sumber data.
Yang satu memberi tanpa mendengar. Yang satu mendengar tanpa memberi.
Keduanya, anehnya, sama-sama merasa sedang berbuat baik.
Sore yang lain
Beberapa waktu lalu, aula paroki itu didatangi lagi. Kali ini lebih pagi, dan proyektornya tidak dinyalakan.
Kursi plastik di dekat meja depan. Izin untuk melihat saja. Ada umat datang minta surat baptis. Ada yang datang salah hari. Ada telepon yang berdering di tengah semuanya.
Berapa kali sekretaris itu harus berdiri, terhitung sembilan kali dalam satu jam.
Lalu satu pertanyaan diajukan, dan hanya satu. Bagian mana dari hari Senin yang paling melelahkan?
Lalu mulut ditutup.
Heningnya panjang, dan tidak enak, dan dibiarkan. Ini bagian yang tidak diajarkan siapa pun dan paling sulit dilakukan. Menunggu di dalam hening tanpa buru-buru mengisinya dengan kalimat sendiri.
Lalu ia mulai bicara. Dan yang keluar bukan satu pun dari jawaban yang sudah tersusun rapi di kepala.
Entah sistem itu akan menjadi lebih baik karena sore itu. Mungkin iya. Mungkin tidak.
Tetapi untuk pertama kalinya, yang sedang dibangun adalah sesuatu untuk orang yang benar-benar ada, dan bukan untuk orang yang dibayangkan.
Dan mungkin memang itu urutannya, dan selama ini saya membaliknya.
Bertanya dulu. Baru melayani.
