Minggu XXVI Masa BiasaPekan II Mazmur
Madah
Pencipta cahaya mulyaYang mengatur matahariPada awal masa purbaKauciptakan langit bumi.
Pagi petang KauhubungkanKauberi julukan hariSenja sudah KaudatangkanT'rimalah pujia...
Selengkapnya
Tanda-tandanya datang pelan-pelan. Huruf koran mulai dijauhkan dari mata, dan lengan terasa kurang panjang. Lutut berbunyi ketika menaiki tangga. Nama kenalan baru cepat sekali lupa. Tubuh adalah jam dinding yang jujur....
Selengkapnya
Sabtu XXV Masa BiasaPekan II Mazmur
Madah
Hari kan berlalu, namun cinta AllahPasti dekat s'lalu tidak kan berpisah.Cemas tidak perlu, tak usah gelisah,Hati harus tetap tabah.
Tinggallah ya Bapa, dampingilah kamiDala...
Selengkapnya
Sabtu XXV Masa BiasaMadah
Kristus cahaya duniaTerbitlah bagaikan suryaDatanglah, kami menungguKami siap menyambutMu.
Kristus Anakdomba PaskaYang dibunuh namun jayaDatanglah, kami menantiSudah rindu hati kami.
Kristus gem...
Selengkapnya
Sabtu XXV Masa BiasaPekan I Mazmur
Madah
Yesus penebus ilahiKami mohon KaudampingiDalam usaha mengabdiKepada sesama kami.
Sudilah Engkau berkaryaMelalui suka dukaYang harus kami alamiDalam kehidupan ini.
Sampaikanlah doa...
Selengkapnya
Petani tidak pernah memaksa musim. Ia tahu kapan tanah dibajak, kapan benih ditebar, kapan tinggal menunggu hujan. Menanam padi di puncak kemarau bukan kegigihan, melainkan kesia-siaan. Alam mengajarkan sabar jauh sebelu...
Selengkapnya
Perhatikan cerek yang mendidih. Uap mengepul dari mulutnya, tampak jelas sebentar, lalu hilang tanpa bekas. Mau digenggam? Tangan hanya basah. Begitu rupanya nasib banyak hal yang kita kejar mati-matian.Kata yang diterje...
Selengkapnya
Setiap kali berkemas untuk bepergian, hukumnya hampir selalu sama: separuh isi tas ternyata tidak terpakai. Kita membawa banyak bukan karena perlu, tetapi karena takut. Takut kekurangan, takut terjebak, takut tidak siap....
Selengkapnya
Setahun sekali banyak keluarga besar di Jawa menggelar kumpulan trah. Silsilah dibentangkan, anak cucu diperkenalkan, garis saudara ditelusuri sampai ke buyut. Darah menjadi tiket masuk: yang segaris keturunan duduk di d...
Selengkapnya
Di mata orang Yahudi zaman itu, meja cukai adalah meja paling kotor di kota. Yang duduk di baliknya bekerja untuk penjajah, memungut pajak dari bangsanya sendiri, dan biasa melebihkan tagihan. Orang melewatinya sambil me...
Selengkapnya