Sejak seingatku, pengalaman sakit sudah menjadi tidak asing. Dulu saat masih kecil belum sekolah, dengkulku sering lecet karena jatuh saat bermain dengan teman-teman. Kalau terlalu asyik berhujan-hujan, hidungku selalu keluar ingusnya dan saat tidur rasanya buntet/mampet.

Pernah juga saat sekolah, aku bikin heboh rumah. Waktu itu mungkin kelas 3 atau 4 SD. Sepulang dari bermain di rumah temanku, aku jalan terpincang-pincang, jari-jari kakiku terbakar. hihihihi…sakiiit banget waktu itu. Bapak, ibu dan kakak hebok semua. Lho koq bisa, kenapa? Aku gak mau jawab, hanya mengatakan..hiii sakit. terus dengan sigap ibu dan kakakku merawatnya. Bapakku masih bertanya: kenapa sih? Hehehe aku tetap gak mau jawab. sehari kemudian, akhirnya terungkap sudah rahasiaku, kakakku tanya ke temanku bermain. kakiku ternyata sakit karena menginjak streofom yang terbakar dan meleleh. lho koq bisa? Lha karena aku maen bakar-bakaran. Aku malu mengakui kakiku sakit karena polahku sendiri. huh…, dasar anak-anak….mbeling.

Pengalaman sakit yang paling kuingat sampai detik ini adalah saat aku harus sampai kemoterapi. Buset dah! Di kelas 2 SMP, aku divonis sakit kanker kelenjar getah bening. Awalnya hanya ditemukannya beberapa benjolan di belakang telinga dan di leher. Setelah operasi dan diteliti, ternyata kanker cukup ganas. Sampai akhirnya aku harus kemoterapi.

Selama kemoterapi itu (6 bulan), aku dua minggu sekolah (di SMP 4 Solo) dan dua minggu berobat (di Jakarta). Saking seringnya naik kereta api, sampai hapal nama-nama Bp Kondekturnya. Hehehehe. Ada juga perasaan trenyuh yang sampai sekarangpun masih terasa: selama aku berobat, teman-teman kelasku dengan rela (tanpa diminta) membuatkan catatan buat aku. hiks…hiks..hikss…..thanx ya teman-teman. Udah gitu, tulisannya bagus dan rapi lho, karena yang mencatata temen2 cewek. hehehehe….
Oh yah, waktu itu aku juga ngalamin ujian kenaikan kelas. wuih..bisa dibayangkan apa yang terjadi. Aku ujian susulan di ruang kepala sekolah (sendirian), dan hasilnya? aku rangking 2. hehehehee rangking 2 dari bawah. untung seribu untung, masih naik kelas 3.
Selama kemoterapi, banyak rambut kepalaku rontok. Karena gemes, akhirnya aku buat buat kepalaku gundul plontos. Entah mengapa setelah tumbuh jadinya kriting kayak gini. Hehehehe.

Pengalaman kemoterapi itu benar-benar dahsyat. Obat yang masuk melalui jarum infus membuat aku terkapar dan tak berdaya. Rasaya lemessss banget, udah gitu perut rasanya mual, sampai harus muntah berkali-kali. Karena gak ada makanan yang bisa masuk, tubuh itu rasanya lemes banget. Yang dahsyat gak hanya itu, tapi rasa gak terima bahwa harus sakit, itulah yang rasanya mau meledak. Di saat tidur lemas di rumah sakit, teman-teman pada sibuk mengisi hari-hari ceria mereka. Di saat jarum menembus kulitku, teman-teman sebaya sedang asyik-asyiknya menjadi pelajar remaja. bener-bener dahsyat rasa berontak waktu itu. Namun seiring rasa berontak itu, tubuh terasa semakin gak berdaya. Makanya, setelah sehat, itu infus aku potret deh…..biar tahu rasa dia (hahahaha apa hubungannya coba?)

Itu semua sudah lewat lebih dari 10 tahun yang lalu. kini aku sudah gak perlu lagi berobat, dan kontrol dokter. Semua berjalan seperti manusia sehat kembali. Bahkan, perasaan berontak itu kini berubah menjadi ungkapan syukur. Aku hanya bisa bersyukur masih diberi kesempatan mengisi hari-hari hidupku lagi. Aku bersyukur masih ada waktu untuk mewujudkan syukur itu dalam hidupku.

Rasanya seperti ini: saat setiap hari makan nasi,rasa nasigak akan spesial. Tapi coba makan nasinya sminggu sekali. Huaaaa….pasti enaaak banget rasanya. Demikian juga hidupku rasanya biasa-biasa aja, sampai ada saat rasanya mo diambil dariku. Baru kemudian hidup rasanya spesiaaaaaaaaaal banget. hehehhehe….begitu tololnya aku yah? Untuk bersyukur saja harus sakit dulu. hehehe

Sahabat, dengan tulisan ini, aku mengajak sahabat untuk semakin menghargai hidup ini. Mari kita isi dengan sesuatu yang spesial. karena memang hidup kita ini sungguh spesial. jangan sampai ketika mau diambil dari dunia ini, baru kita sadar begitu spesial hidup kita di mata sang Pencipta.

hehehehe