Sekali lagi bebicara soal Yesus. Peristiwa seputar Yesus, pribadi Yesus, pemberitaan dan juga orang-orang di sekeliling Yesus selalu saja tidak pernah habis untuk digali, diulas, dihias dan dinikmati. Yesus menjadi saaran empuk bagi para seniman, menjadi objek yang paling kaya bagi seorang yang dekat dengan hatinya. Caravaggio adalah salah satu pelukis yang mencoba menikmati sekaligus menyuguhkan Yesus. Dengan caranya sendiri hendak diungkap pribadi dan peristiwa Yesus yang diimaninya.
Alkisah, dua murid Yesus mudik karena kenyataan guru mereka telah mati disalib. Dalam perjalan mereka bertemu dengan Yesus yang telah bangkit, namun mereka tidak mengenalinya. Dalam perjalanan pembicaraan terjadi cukup seru, sampai-sampai Yesus ditahan untuk bermalam bersama dalam pernalan menuju Emmaus tersebut. Dalam peristirahatan, mereka makan bersama. Saat Yesus mengambil roti, mengucap berkat, dan memecah-mecahkannya, barulah kedua murid tersebut sadar bahwa yang di hadapan mereka adalah Yesus yang sudah bangkit. Mata mereka terbuka. Dan pada saat yang sama, hilanglah Yesus dari hadapan mereka.
Kisah tersebut ditangkap dan dipotret oleh Caravaggio dengan lukisannya. Kisah tersebut dituturkan dalam Injil Lukas (Luk 24:13-35) dengan panjang lebar. Nampaknya, selain Injil Lukas, Caravaggio juga melirik Injil Markus (Mrk 16:12). Oleh karena itulah maka wajah Yesus kelihatan muda, tak mempunyai jambang. Cara Yesus menampakkan diri dalam rupa lain, membuat para murid tidak mengenali-Nya.
Peristiwa perjalanan Emmaus cukup panjang, namun saat penampakan Yesus sangat singkat. Saat yang sangat singkat itulah yang hendak ditangkap oleh Caravaggio. Saat dimana kedua murid menyadari kehadiran Yesus sekaligus saat dimana Yesus ‘akan’ hilang dari pandangan. Bersaamaan dengan penyadaran, hilanglah Yesus dari pandangan. Tapi pasti ada saat (yang sangat singkat) dimana para murid menyadari dan melihat Yesus persis sebelum Yesus hilang dari pandangan. Singkatnya saat yang berarti itulah yang hendak ditangkap dan diabadikan oleh Caravaggio

Menikmati “SAAT”

Secara teknis, lukisan ini memakai gaya Chiaroscuro. Cahaya yang dipilih oleh Carvaggio adalah tunggal, yaitu dari kiri atas untu menerangi semua objek dalam lukisan. Kerena hanya satu cahaya yang dipakai, maka cahaya ini ditampilkan dengan sangat kuat. Sekaligus cahaya menjadi aksentuasi bagi tiap warna dalam lukisan. Cahaya datang dengan sangat tajam, miring dari kiri atas. Ketajaman ini membentuk batas ruang atau dinding dalam peristiwa ini. Kesan ruang menjadi kuat pesis karena tiada cahaya menyapa ruangan secara sempurna. Kontradiksi ini muncul karena efek Chiaroscuro yang bermain dengan terang dan gelap. Dengan kondisi yang demikian, Caravaggio dapat secara bebas berekspresi dengan objek. Cahaya diaturnya sedemikian rupa sehingga dia tidak lagi dituntut membahasakan ruang. Maka perhatian mata yang memandang akan dengan cepat tertuju pada wajah tokoh utama, Yesus sendiri. Sinar datang kepada wajah Yesus dan semua benda mendapat sinar sisa dari wajah Yesus. Maka secara otomatis, lukisan ini juga punya pusat pada tokoh utama. Permainan Chiaroscuro yang kuat oleh Caravaggio dapat menjadi suatu yang berharga disini. Teksur dari masing-masing tokoh dan objek juga mendapat keuntungan dari sedikitnya sinar yang ada. Sinar yang sedikit ini memberi suasana dramatis yang kental. Layaknya sebuah drama dengan musik yang sangat menyentuh.
Pilihan sinar datang dari kiri atas tersebut ternyata juga tidak sekedar memberi cahaya. Cahaya ini hendak mendukung Caravaggio yang mengabadikan saat istimewa dimana para murid sadar akan Yesus dan saat persis sebelum Yesus menghilang dari pandangan mereka. Cahaya miring yang tajam tersebut menangkap keterkejutan, saat yang sekonyong-konyong hadir (yang kemudian hilang). Dengan cahaya tajam menembus ruangan dari samping, saat yang sangat singkat tersebut ditangkap. Hal ini bisa dilihat dari pemakaian komposisi warna merah. Yesus memakai jubah merah terang menjadi pusat lukisan. Namun selain itu, pelayan/tuan rumah juga memakai baju merah. Baju merah tuan rumah hanya kelihatan pada lengan kanannya. Warna merah seakan-akan berbaris sejajar dengan sinar yang datang dari arah kiri atas. Peristiwa yang singkat tersebut disuguhkan dalam warna merah yang kuat sejajar dengan sinar yang mencoba menangkap saat tersebut.

Terlihat sedap

Komposisi “Supper at Emmaus” dibangun dengan merangkai keahlian Caravaggio. Teknik Chiaroscuro digabungkan dengan kepiawaiannya menjelajah medan Still Life. Empat tokoh manusia dalam lukisan itu berada di sekitar meja makan, dalam suatu ruangan. Ruangan dan tokoh-tokoh tersebut dilukis dalam kontrasnya cahaya, sedangkan meja dan isinya dilukis dengan sangat hidup. Bayangan gelas yang memantulkan cahaya dan meneruskan membiaskan cahaya ke atas meja memberi kesan dinamis yang kuat pada suatu gambar mati. Roti yang belum juga dimakan, karena baru saja dipecah, daging unggas yang kelihatan gurih karena warnanya tampak seakan-akan baru keluar dari wajan penggorengan, maupun buah dan daun anggur, semuanya secara bisu memberikan nada yang selaras dengan para tokoh dan saat yang terjadi pada waktu itu. Gambar diam yang ditampilkan Caravaggio secara proporsional memberi sumbangan tersendiri dalam pengabadian saat bersejarah tersebut.
Saat yang diabadikan Caravaggio akan menjadi sangat nampak dalam gambar para tokohnya. Komposisi para tokoh adegan ini di gambar pula oleh Rembrandt dengan kisah yang sama. Tokoh yang dilukis ada 4 orang, Yesus, dua orang murid dan seorang pelayan/tuan rumah. Caravaggio menempatkan orang keempat sebagai bentuk penekanan peristiwa atau saat yang hendak dipotret.
Tuan rumah dan dua murid, bersama-sama melihat Yesus dengan gaya dan sikap tubuh yang berbeda-beda. Tuan rumah nampak terkejut bercampur bingung dengan situasi yang ada. Keterkejutan yang bercampur bingung tersebut sangat mungkin karena emosi dan perasaan yang meluap dari dua murid tersbut. Pandangan tuan ruman ada pada Yesus tapi, sikap badan ada pada tengah meja, berari pada saat yang singkat tesebut dia menoleh pada Yesus, persis karena melihat sikap para murid.

Dua orang murid tersebut bila dilihat lebih teliti, ternyata mempunyai sikap tubuh yang agak aneh. Dua murid tersebut digambarkan sebagai dua orang pekerja, hal ini nampak dari kedua pakaian yang dipakai. Mereka pastilah bukanlah orang-orang kaya atau pejabat kelas atas. Dari pengaturan rambut dan pilihan baju, kedua murid ini digambarkan sebagai rakyat jelata .
Sikap tubuh murid yang ada di sebelah kiri menampakkan bahwa ia hendak berdiri. Tanganya dengan kuat memegang kursi, siap-siap untuk menahan tubuhnya yang akan bangkti berdiri. Saat yang dipotret Caravaggio adalah saat murid ini terhentak kesadarannya dan karena keterkejutannya tersebut sikap tubuhnya spontan hendak bangkit. Kepala murid tersebut nampak terjulur, seakan-akan hendak memastikan kembali benarkan yang dihadapannya adalah Yesus sang Guru yang dikenalnya tersebut. Bila gambar kepala tersbut diperbesar dan diteliti dengan lebih detail, maka akan tertangkap sebuah kerutan diatas alis kanan murid ini. Murid tersebut kelihatan sedang terbelalak matanya lebar-lebar. Sikap tubuh ini diperkuat dengan sebuah gambaran matel dibelakang murid ini. Karena hendak beranjak berdiri, mantel digambarkan Caravaggio seakan-akan terjatuh begitu saja keatas kursi sebab empunya mantel hendak bangkti berdiri. Semuanya ini hendak menyuarakan nada yang sama, yaitu keterkejutan dan kekagetan murid atas kesadaran penampakan yang diterimanya.

Demikian pula dengan murid yang ada disebelah kanan yang memakai baju coklat dan putih. Agar senada dengan murid yang pertama, murid yang kedua ini mengenakan sesuatu yang berwarna hijau. Sedangkan Yesus mengenakan warna merah, yang didukung oleh warna merah baju tuan rumah. Kombinasi warna merah dan hijau tersebut menjadi sangat kelihatan dengan permainan cahaya pada meja putih. Warna lengan baju murid di sebelah kanan tidak lagi seputih dengan taplak meja yang bersih, bahkan masih kalah bersih dibanding lap yang disediakan dan diletakkan dipangkuan murid kedua. Kelihatan dengan jelas siapa kedua murid ini, ditilik dari cara berpakaian mereka.
Sikap tubuh murid yang disebelah kanan ini nampak lebih ekpresif, karena nampak dari samping bukan dari belakang. Wajahnyapun juga menjadi objek yang mendapat cahaya cukup terang, walau masih kalah terang dibanding wajah Yesus, karena asal cahaya dari kiri atas. Sikap tubuhnya nampak condong menuju ke arah Yesus, dan dipertegas dengan sikap tangannya. Tubuhnya menghadap meja, namun agak condong ke arah Yesus, tentu hal ini karena keterkejutannya atas saat yang dialaminya. Tangan kanan dan kirinya terentang dan telapaknya terbuka, seakan akan hendak menangkap saat tersebut agar tidak berlalu. Bahkan tangan kanannya dengan jelas hendak meraih Yesus, memegangnya karena murid ini tidak rela saat itu berlalu dengan cepat. Seperti murid yang pertama, mimik wajah murid yang kedua ini juga penuh dengan kerutan kekagetan. Sebuah ekspresi yang ditangkap Caravaggio dengan teknik penyinaran yang tajam.

Tokoh yang terakhir, tokoh utama yaitu Yesus. Dengan hanya melihat sekilaspun, orang langsung menangkapknya sebagai pusat lukisan dan pusat perhatian pelukis. Banyak hal yang secara khas hanya ada pada diri Yesus, dibandingkan dengan tokoh lain dalam lukisan. Wajah Yesus yang sudah bangkit ternyata dilukis Caravaggio dengan lebih muda, tanpa ada kumis dan jambang. Wajah Yesus masih namapak sangat muda dan agak sedikit feminin. Nampaknya Caravaggio mencoba memberi tempat bagi informasi dari Injil Markus, (Mrk 16:12) yang mengisahkan Yesus menampakkan dalam rupa lain sehingga kedua murid tidak mengenali-Nya. Ternyata Caravaggio menafsirkan, Yesus mengambil rupa saat dia masih muda, sehingga murid-murid sulit mengenalinya. Dengan wajah yang demikian, penokohan menjadi sangat menonjol. Dibandingkan ketiga wajah yang lain, wajah Yesus seakan-akan nampak lugu, tidak berdosa, bahkan cenderug berbau ningrat. Seakan-akan ada mutiara bersinar di tanah berlumpur. Situasi ini disampaikan Caravaggio karena dia yakin inilah Yesus yang sudah dibangkitkan dengan mulia.

Yesus yang dikenal Caravaggio dalam lukisan ini adalah Yesus yang sudah mulia. Yesus yang diimaninya adalah Yesus yang tidak lagi sama dengan manusia. Kini telah ada perbedaan jelas antara manusia dan Yesus. Namun, kini Dia terpampang duduk diantara orang-orang sederhana dan makan bersama. Kembali, gaya hidup Caravaggio yang dekat dengan orang kecil mempengaruhinya dalam cara beriman, dalam cara pandangnya akan Yesus, dan akhirnya berpengaruh dalam cara ia melukis.
Yesus nampak sedang bertumpu pada lengan kiri-Nya dan tangan kanan-Nya terangkat. Kelihatan bahwa Ia baru saja melakukan suatu gerakan yang menyertai kata-kata-Nya. Selesai itu, Ia bertumpu pada lengan kiri, badan condong kedepan (ditumpu lengan), dan terekam gerakan seakan-akan hendak bangkit berdiri. Ternyata saat yang istimewa tersebut ditanggkap Caravaggio, saat Yesus hendak meninggalkan tempat itu. Karena bersamaan dengan kesadaran para murid, Yesus hilang dari pandangan. Dan saat itu di lukiskan dengan saat ketiga orang tersebut (Yesus dan kedua murida-Nya) bersama-sama melakukan gerakan. Secara khusus saat istimewa tersebut diterjemahkan dengan perubahan sikap tokoh-tokoh. Persis sebelum sikap itu terbentuk sempurna, murid pertama berdiri, murid kedua memegang Yesus, dan Yesus hendak meninggalkan meja, saat itulah yang diabadikan Caravaggio.

Dengan menikmati lukisan Caravaggio, iman menjadi berbicara dalam setiap saat dan dimana saja. Relasi Caravaggio dengan objek yang dilukis tentunya tidak dapat dipungkiri terjadi sangat intensif. Pengenalannya akan Yesus membawanya pada penjelajahan saat yang singkat namun berarti bagi seorang Kristen. Yesus memang sumur tanpa dasar yang tak kan habis ditimba airnya, terutama bagi seniman seperti Caravaggio.

Lukisan “Supper at Emmaus” ternyata sangat kaya akan nuansa religiu, walaupun kehidupan Caravaggio jauh dari biara. Kehidupannya yang keras, bahkan tidak jarang ia menghuni penjara, ternyata juga berarti dalam beriman dan akhirnya dalam berkarya. Tak dapat dipungkiri, Caravaggio adalah seniman yang orisinil dengan gayanya yang lugas dan keras. Namun karena itulah ia dapat dengan jernih menangkap saat yang istimewa tersebut. Saat tersebut diabadikannya sehingga sampai saat inipun saat istimewa itu masih bisa dinikmati.